Mesin Uang Otomatis

Statistik Kunjungan

Janda Ketagihan Seks - Hisab Kontol Memek

http://penguint159.files.wordpress.com/2011/09/wpid-ngentot-memek-sekretaris-seksi-plus-plus.jpg?w=560

Janda Ketagihan Seks - Hisab Kontol Memek - Janda atau Rondo Ketagihan Ngeseks – Musik berdentum-detum. Cahaya spotlight silih berganti memancar. Berpuluh-puluh wanita dan pria berbaur di lantai tengah, sebagian lagi duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Diskotik ternama itu dipenuhi asap dari dry ice dan juga rokok yang dihisap pengunjungnya. Disalah satu sudut yang gelap, ada sesosok wanita. Duduk sendirian, meja di depannya penuh dengan gelas-gelas kosong yang isinya telah diminumnya sejak ia sampai di diskotik ini. Camelia, 29 tahun. Termasuk salah seorang diva Indonesia yang namanya telah terkenal dimana-mana, menatap kosong sambil terus meminum isi gelas yang ada di tangan kirinya. Pandangannya kabur, tubuhnya sudah sulit diajak kompromi. Tapi ia terus meminum isi gelas itu, untuk melupakan kemelut rumah tangganya, melupakan penjualan album terbarunya yang tidak begitu menggembirakan. Di sudut yang gelap itu, tidak ada yang mengenalinya, karena itu ia memilih untuk terus diam disitu, dan menghabiskan waktunya dengan minum gelas demi gelas yang diantarkan oleh waitress. Akhirnya isi gelas yang kesekian itu juga habis. Mata Camelia memincing berusaha melihat jarum jam tangan yang ada di tangan kanannya. Ternyata ia telah berada di diskotik itu selama 4 jam. Waktunya pulang. Perlahan ia berusaha berdiri sambil berharap tidak ada orang yang mengenali dia. Sempoyongan ia berjalan menuju pintu keluar, membelah lautan manusia yang memadati diskotik itu. Susah payah dan perlahan ia berhasil mencapai pintu keluar itu. Sambil menunduk dan berharap tidak dikenali, ia menuju tempat tunggu taksi yang tersedia di depan. Satu taksi menghampirinya, Camelia pun masuk. Duduk di belakang supir taksi, ia menyebutkan alamat rumahnya. Ia tidak tinggal lagi di rumah yang dulu setelah ia menikah. Karena ia tidak mau teringat tentang masalah keluarganya. Camelia sengaja membeli sebuah rumah yang lebih kecil, dengan 3 lantai. Hanya ditemani 2 pembantu, 2 satpam dan 1 supir. Anaknya telah ia titipkan ke keluarga di Sumedang. Perjalan ke rumahnya biasanya mencapai waktu 30 menit lebih. Camelia duduk sambil bersandar, kepalanya mulai berdenyut akibat alkohol tadi. Ia berusaha memejamkan matanya berharap sakit kepala itu bisa hilang. Tiba-tiba sebuah handphone berdering. Handphone i tu terus berdering. Supir taksi itu sempat memalingkan wajahnya untuk melihat ke belakang. Seberkas cahaya dari lampu jalan masuk menerobos menerangi penumpangnya. Ia terkesiap. Itu Camelia . Si penyanyi. Iyan. 50 tahun. Kemabli berusaha berkonsentrasi membawa taksi itu. Dalam hatinya ia bertanya, kenapa Camelia yang terkenal itu bisa mabuk berat seperti itu. Handphone itu terus berdering. Akhirnya Camelia menyerah, tangannya meraih ke dalam tas kecil yang dibawanya, dan mengeluarkan handphone itu. “Halo?” Suaranya serak, hampir tak terdengar ditelan deru taksi itu. “Halo? Siapa?” “Halo? Oh elo… gw lg di taksi, mau pulang.” Tangan kiri Camelia memijati keningnya, berharap rasa pusing yang terus menyerang bisa pergi. “Dari tempat biasa.” Camelia berusaha mengikuti pembicaraan. “Iya gw tau, gw pusing! Please jangan kuliahin gw dulu, gw tau lo temen baik gw, tapi lo gak ngalamin apa yang terjadi ama keluarga gw. Please, telpon gw telpon gw besok siang aja ya!” Jari Camelia menekan sebuah tombol dan dilemparkannya handphone itu di jok sebelah. Lima menit berlalu, suasana taksi itu kembali sunyi. Pikiran Iyan berputar cepat. Ia melihat sebuat kesempatan yang bisa ia ambil dan akan membuat ia merasakan surga dunia di hari-hari mendatang. Ia harus berpikir cepat. Iyan membasahi tenggorokannya. “Mau lewat tol atau gak usah mbak?” tanyanya sambil melihat ke spion. Camelia tidak menjawab. “Mbak? Mau lewat tol atau gak usah?” Iyan bertanya lebih keras lagi. Tidak ada tanggapan. Tangan kiri Iyan meraba-raba atap taksinya untuk menyalakan lampu. Lampu pun menerangi mobil taksinya. Perlahan Iyan mengurangi kecepatan sampai akhirnya taksi itu berhenti di pinggir jalan. Sekarang ia bisa melihat, Camelia dengan balutan backless warna kuning, dengan sepatu kuning juga, rupanya sudah tidak bisa menahan kantuk yang menyerang dan tertidur. Pulas karena pengaruh alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya. Bagian atas gaun kuning yang menutupi dada Camelia , terikat dengan seutas tali kain ke leher Camelia . Dada Camelia bergerak naik turun seiring hembusan nafasnya. “Mbak? Mbak baik-baik saja?” Iyan kembali bertanya dengan suara yang lebih keras. Perlahan tangan Iyan terulur menyentuh lutut Camelia . Begitu halus. Iyan menelan ludah. “Mbak? Mbak?” Iyan mengoyang lutut Camelia , perlahan dan makin keras. Gaun kuning itu tersingkap memperlihatkan paha Camelia yang mulus. Iyan tersenyum senang. “Tidurlah terus Camelia . Akan gua bawa lo menikmati surga bikinan gua!” Iyan tertawa dalam hati. Taksi itu bergerak maju, seakan dikejar oleh sesuatu sebelum akhirnya membelok ke sebuah jalan yang gelap jauh dari ruas jalan utama tadi. Di dekat kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan, Iyan menghentikan taksinya. Kawasan sekitarnya gelap gulita. Perkampungan penduduk pinggir kota juga jauh dari situ. Jalan utama juga sama jauhnya. Satu-stunya sumber cahaya adalah lampu di dalam taksi Iyan. Iyan kemudian membuka pintu taksinya dan pindah ke belakang duduk di sebelah kiri Camelia yang masih saja terlelap. Tubuh Iyan bergetar. Nafsu, gembira, takut semuanya menjadi satu ketika ia memandangi tubuh Camelia yang tergolek di sebelahnya. Iyan melihat handphone yang tergeletak di jok. Sebuah HP yang canggih, lengkap dengan kamera dan lampu blitz. Cocok sekali. Kalau saja ia tidak mengingat waktu yang terus berjalan, Iyan tidak akan berhenti memandangi Camelia yang tidak sadar apa yang sedang akan terjad pada dirinya. Setelah mencoba-coba HP Camelia , Iyan akhirnya bisa mengoperasikan kamera lengkap dengan blitz yang tersedia. Ia pun mulai mendekati Camelia , wangi tubuhnya mulai tercium. Tangan Iyan meraba leher Camelia dan menemukan ikatan tali yang menahan bagian atas gaun backless itu. Dengan satu tarikan terlepaslah ikatan itu. Iyan menahan nafas. Matanya terbelalak. Sepasang payudara yang bulat. Dengan puting yang berwarna merah mudah kecoklatan terlihat di depan matanya. Betul-betul buah dada yang sempurna. Perlahan kedua tangan Iyan yang gemetar meraba buah dada itu. Perlahan sampai akhirnya meremas dengan lembut. Terasa kencang dan lembut. Puting susu itu mencuat karena AC dari taksi yang dingin. Iyan mendekatkan mukanya, harum bau tubuh Camelia semakin tercium. Lidah Iyan menjulur dan merasakan daging puting susu Camelia yang kenyal, yang perlahan mengeras. Iyan membuka mulutnya dan akhirnya puting itu dapat ia rasakan di seluruh mulutnya. Sebuah desahan keluar dari mulut Camelia . Iyan menghentikan kegiatannya. Memandangi Camelia yang ternyata masih terus terlelap. Iyan memutuskan untuk segera melanjutkan rencananya. Masih banyak waktu untuk menikmati tubuh Camelia , putusnya. Ia mengambil HP itu, dan mulai mengambil gambar Camelia yang setengah telanjang itu dari segala arah. Puluhan gambar ia ambil sampai akhirnya Iyan merasa cukup. Kemudian, dengan kondisi ruang gerak yang terbatas, Iyan berhasil menurunkan celananya, dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras dari tadi. Ia mendekatkan penis itu ke bibir Camelia dan kembali mengambil gambarnya. Lampu blitz berpijar setiap kali gambar muka Camelia yang seolah-olah sedang akan melakukan oral ke penis Iyan ditangkap oleh lensa kamera HP Camelia . Akhirnya dengan nafas memburu, Iyan berhenti dan merasa cukup. Perlahan ia mengikatkan kembali tali gaun backless Camelia . HP itu ia masukan ke laci depan taksinya. Degub jantung Iyan sudah hampir normal kembali ketika taksi itu membelok masuk lagi ke jalur utama menuju rumah Camelia . Waktu menunjukkan pukul 02:43 dini hari. Tepat pukul 3 dini hari taksi Iyan berhenti di depan rumah Camelia . Sebuah rumah di pemukiman elit, dengan pagar besi yang menjulang tinggi, membuat orang di luar tidak dapat melihat apa yang ada di dalam. Rumah yang sangat mendukung, kata Iyan dalam hati, sambil mengambil HP Camelia dan memasukannya ke saku jaketnya. Ia mengeluarkan kepalanya dari taksi dan menekan klakson. Suara klakson membelah keheningan di depan rumah Camelia . Butuh 3 kali klakson untuk membuat gerbang besi itu terbuka. Iyan langsung mematikan mesin, keluar dari taksi, dan mengeluarkan Camelia dan membopongnya mendekati gerbang Rasa kantuk dua orang satpam yang membuka gerbang langsung hilang melihat majikan mereka dibopong oleh seorang supir taksi. “Mbak?! Mbak Ocha kenapa mbak?!” Kedua satpam itu langsung mengurung Iyan. “Majikan lo mabok nih! Sampe pingsan di mobil gua! Cepet bukain pintunya!” bentak Iyan Kedua satpam itu tergopoh-gopoh memandu Iyan masuk menuju sebuah garasi, lalu membelok ke kiri, melewati dapur yang luas, sebelum akhirnya masuk ke ruangan utama rumah Camelia . Cahaya temaram menerangi rumah itu, membuat Iyan bisa melihat sofa dan berbagai mebel mahal ada di rumah Camelia . “Langsung ke kamar tidurnya aja!” perintah Iyan pada satpam yang ada di depannya. Mereka pun menaiki tangga menuju lantai atas. Satpam di depan Iyan membuka pintu pertama di sebelah kanan tangga itu dan menyalakan lampu. Kamar tidur Camelia begitu luas, lengkap dengan sofa warna putih, ranjang warna putih, dengan selimut dan kasur yang terlihat begitu empuk. Beberapa foto diri Camelia juga terpajang di sana. Ketiga orang itu terlongo sejenak melihat kamar tidur yang sedemikian besar dan sangat nyaman. Kedua satpam rumah Camelia juga baru kali ini melihat bagian dalam kamar tidur Camelia karena are tugas mereka selama ini hanya menjaga gerbang depan. Iyan yang segera sadar dari takjubnya, membawa Camelia ke ranjang dan perlahan meletakan penyanyi itu. Gaun Camelia kembali tersibak dan tertindih oleh pahanya sendiri sehingga ketiga pria itu dapat melihat betapa mulusnya paha Camelia . Ketiga pria itu berdiri bagai patung melihat Camelia yang terus terlelap. Pahanya yang mulus, pinggangnya yang ramping, dadanya yang tertutup gaun kuning itu naik turun perlahan seiring nafas Camelia . Ketiganya seakan tidak ingin kehilangan setiap detik untuk melihat pemandangan itu. Iyan menoleh ke kiri berpandangan dengan satpam yang ada di kirinya. Setelah itu saat ia menoleh ke kanan, satpam yang ada di kanannya juga sedang memandangi dia. “Lo berdua betah kerja disini?” tanya Iyan sambil kembali memandangi Camelia . “Betah bang.” jawab satpam di kanan Iyan “Majikan lo ini, perlakuannya gimana? Baek?” “Baek bang. Ya namanya juga majikan. Emang kita sebagai bawahan ya musti lakuin apa yang dia perintah kan bang.” satpam di kiri Iyan menjawab. “Nama lo berdua siapa sih?” “Nardi bang.” Satpam dengan badan hitam dan tinggi besar di sebelah kiri Iyan menjawab. “Saya Ruri bang.” Ruri juga memiliki kulit hitam tapi dengan perut yang agak buncit, tidak setinggi Nardi. “Disini ada siapa aja selaen lo berdua dan majikan lo ini?” “Ada pembantu bang. Parto sama Narti. Terus ada supir mbak Ocha, pak Rasto.” jawab Nardi. “Lo mau ngesot ama majikan lo?” Kedua satpam itu terjengit kaget mendengar pertanyaan Iyan. “Mak…mak..maksud abang gimana bang?” Ruri terbata-bata. “Masa lo gak ngerti maksud gua sih?” Iyan menatap Ruri. “Gua bisa bikin supaya lo berdua bisa ngesot ama majikan lo ini. Asal lo mau nurutin semua perkataan dan perintah gua. Singkatnya, majikan lo sekarang gua bukan dia.” Nardi dan Ruri yang sekarang sudah berdiri berdampingan tampak takjub campur bingung. Keduanya melihat Camelia dan Iyan bergantian. Jakun mereka naik turun menelan ludah. “Gimana? Mau gak lo?” Ruri dan Nadi berpandangan, lalu mereka tersenyum lebar satu sama lain. “Mau bang! Mau banget!” jawab mereka bersamaan. “Bagus! Mulai sekarang lo berdua turutin apa perintah gua.” Iyan baru saja mendapatkan dua orang lagi untuk membantu dalam menjalankan rencananya. Sejauh ini apa yang ia rencanakan telah berjalan dengan lancar. Tinggal menjalankan langkah selanjutnya. Sebuah rencana yang disusun dalam waktu singkat tapi akan membuat Iyan dapat merasakan surga dunia. “Oke, sekarang lo dengerin perintah gua!” Kedua satpam itu mendekat dan berusaha konsentrasi, sementara pikiran mereka sudah penuh dengan bayangan tubuh Camelia tanpa busana sedikitpun. “Lo tutup pintu, trus lo kunci. Abis itu lo bantuin gua lepasin baju yang dipake ama majikan lo. Ngerti?” “Ngerti bang!” Nardi langsung mendekati pintu kamar Camelia dan menutupnya tidak lupa mengucinya. Lalu buru-buru menyusul Iyan dan Ruri yang sudah berdiri di sebelah ranajng Camelia Tanpa banyak bicara mereka bertiga langsung melucuti pakaian yang dikenakan oleh Camelia . Tali gaun itu dilepas. Sepasang tangan meraih ke bawah gaun Camelia dan menarik lepas celana dalam Camelia . Tubuh Camelia yang lunglai didudukan, agar mereka bisa menarik gaun kuning itu lepas dari tubuhnya. Yang terakhir sepatu Camelia pun lepas dari kaki Camelia . Penis ketiga orang itu bagaikan mau meledak. Begitu tegang sampai terasa ngilu melihat tubuh Camelia yang begitu kencang. Mulus. Bersih. Perut yang ramping, tidak ada tanda-tanda lipatan ataupun lemak. Di antara pahanya terlihat gundukan vagina yang begitu mengundang nafsu mereka. “Sekarang gimana bang?” tanya Nardi tak sabaran. “Sekarang giliran lo berdua lepasin baju lo sendiri.” Bagai kesetanan kedua satpam itu berlomba menelanjangi diri sendiri. Penis Nardi sudah sedemikian tegang. Panjang dan gemuk. Sedangkan Ruri, sama bernafsunya. Penisnya yang gemuk seperti perutnya mengacung dang bergoyang-goyang seperti ular. “Sekarang gini, lo berdua boleh deketin majikan lo, lo boleh pegang-pegang, lo boleh jilat-jilat, lo boleh ngapain aja selama itu gak bikin dia bangun. Tapi lo belom boleh entotin dia, karena gua musti siapin beberapa hal dulu supaya rencana gua bisa lancar.” kata Iyan. “Pokoknya kalo langkah yang ini lancar, gua jamin lo bakalan bisa ngesot ama majikan lo sebanyak ya lo mau besok-besok. Ngerti?!” Walaupun agak kecewa karena batal meniduri majikan mereka, Nardi dan Ruri tetap menganggukan kepala mereka. Daripada gak sama sekali, lumayan bisa ngerasain bodinya mbak Ocha, pikir mereka. Iyan mengambil HP Camelia tadi, dan mulai mengambil gambar lagi. Berpuluh gambar berhasil ia ambil. Dua penis yang menempel di pipi Camelia , tangan yang meremas payudara Camelia , lidah Ruri yang sedang menjilati puting susu Camelia , dan masih banyak lagi. Dengan hati-hati Iyan mengambil gambar sehingga muka Camelia terlihat jelas sedangkan kedua satpam itu tidak. Akhirnya, Nardi dan Ruri meyerah pada nafsu mereka, mereka mengocok penis mereka sendiri dan mengeluarkannya ke dada Camelia . Iyan dengan sigap merekam semuanya menjadi sebuah video. Setelah puas, para satpam itu membersihkan sperma yang belepotan di dada Camelia , sebelum kembali memakaikan kembali gaun, celana dalam dan sepatu Camelia . “Bagus! Rencana kita berjalan lancar! Sekarang kita keluar, dan lo berdua besok biasa-biasa aja. Jangan berbuat macem-macem dulu. Begitu majikan lo ini bangun, langsung lo SMS gua ya!” Iyan meberikan petunjuk sementara Nardi dan Ruri menganggukan kepala mereka. Mereka pun keluar dari kamar, dan bergegas menuju pos satpam. Iyan memberikan nomor untuk menghubungi dia kepada Ruri. Waktu menunjukkan pukul 03:53 dini hari ketika Iyan memacu mobilnya menjauhi rumah Camelia . Pukul 04:19 dini hari. Iyan menghentikan taksinya di depan sebuah rumah kecil, sedikit bobrok tempat dia tinggal. Ia pun masuk dan mengunci semua pintu. Di dalam rumah itu hanya ada peralatan masak, sebuah notebook, dan sebuah printer berwarna. Tiga tahun yang lalu, Iyan adalah seorang yang mempunyai pekerjaan yang sangat menjanjikan, manager personalia sebuah perusahaan komputer di luar kota Jakarta. Namun Iyan melakukan hal-hal yang tidak akan bisa ditolerir lagi oleh perusahaan itu, oleh karena itu setelah berhasil membawa sejumlah uang, ia pun hijrah ke Jakarta. Untuk sementara ia harus menyembunyikan diri terlebih dahulu. Karenanya ia memilih menjadi supir taksi yang bisa dengan tenang menjelajahi kota Jakarta menunggu sebuah kesempatan datang pada dirinya. Iyan dengan cekatan memindahkan seluruh foto dari HP Camelia ke notebooknya, menyalinnya ke dalah sebuah CD-ROM, dan kemudian mencetak beberapa dari foto itu. Tidak lupa ia juga membuat sebuah VCD dari adegan yang berhasil ia rekam tadi.